
Pendahuluan
Jepang dikenal luas sebagai negeri dengan perpaduan unik antara modernitas dan tradisi kuno. Di balik gemerlap kota Tokyo dan pesona budaya pop seperti anime maupun manga, terdapat warisan budaya yang kaya, salah satunya berupa festival (matsuri). Festival-festival ini biasanya penuh warna, ramai, serta diiringi doa kepada dewa Shinto maupun Buddha. Namun, tidak semua festival bersifat meriah atau menenangkan. Ada juga festival yang dianggap angker, lekat dengan nuansa mistis, kisah hantu, hingga ritual kuno yang membuat bulu kuduk merinding.
Artikel ini akan membahas salah satu festival yang paling angker di Jepang, yaitu Aomori Nebuta Matsuri dan kaitannya dengan mitos roh serta dunia gaib, sekaligus menyinggung beberapa festival lain yang juga penuh misteri.
Sejarah Singkat Festival Nebuta
Nebuta Matsuri merupakan festival besar yang berlangsung setiap awal Agustus di Prefektur Aomori, bagian utara Jepang. Festival ini menampilkan arak-arakan lampion raksasa berbentuk wajah samurai, dewa, hingga makhluk gaib. Lampion-lampion itu dibuat dengan detail menakjubkan, berukuran hingga 9 meter panjangnya, dihiasi cahaya, dan dibawa berkeliling kota diiringi teriakan “Rassera, Rassera!”.
Walau sekarang menjadi daya tarik wisata, sejarah Nebuta Matsuri berakar pada praktik kuno yang diyakini berasal dari ritual pengusiran roh jahat. Kata “Nebuta” sendiri diduga berasal dari “Nemuri Nagashi” atau “mengusir kantuk/roh jahat penyebab penyakit dan kemalangan.” Dari sinilah muncul keyakinan bahwa festival ini tidak hanya perayaan seni, tetapi juga upacara spiritual melawan energi-energi gaib.
Aura Mistis di Balik Nebuta Matsuri
Meskipun tampak meriah, bagi masyarakat lokal ada sisi mistis dari Nebuta Matsuri. Lampion-lampion yang berbentuk wajah seram konon berfungsi sebagai simbol pengusir roh penasaran (yūrei) yang berkeliaran di musim panas.
Dalam tradisi Jepang, musim panas diyakini sebagai saat di mana tabir antara dunia manusia dan dunia roh menjadi tipis. Karena itu, festival Nebuta dianggap sebagai cara melindungi kota dari gangguan makhluk halus. Banyak kisah turun-temurun yang menyebutkan bahwa bila festival ini tidak dilaksanakan, kota akan dilanda bencana, wabah penyakit, atau panen gagal.
Beberapa warga tua bahkan percaya bahwa suara teriakan peserta festival bukan sekadar penyemangat, tetapi juga mantra yang dapat menakuti roh jahat. Inilah yang membuat Nebuta Matsuri berbeda dari festival pada umumnya: ia tidak hanya merayakan, tetapi juga berfungsi sebagai ritual perlindungan.
Hubungan dengan Kisah Hantu Jepang
Untuk memahami nuansa angker Nebuta, kita perlu menyinggung tradisi Obon, perayaan arwah leluhur yang jatuh pada pertengahan Agustus. Obon dipercaya sebagai waktu ketika roh leluhur kembali mengunjungi keluarga. Nebuta sering dianggap sebagai "pembuka jalan" menuju Obon, karena sama-sama berada di bulan Agustus dan berkaitan dengan dunia roh.
Bayangkan: ribuan orang berarak di jalanan dengan lampion berwajah seram, teriakan mistis menggema, sementara diyakini roh-roh berkeliaran di sekitar mereka. Bagi wisatawan asing mungkin terasa eksotis, tetapi bagi orang Jepang sendiri ada sensasi menyeramkan yang menyelimuti.
Bahkan ada cerita rakyat setempat yang menyebutkan bahwa terkadang lampion Nebuta yang berbentuk wajah samurai bisa "dihuni" roh penasaran. Jika pembuat lampion tidak berhati-hati, lampion tersebut bisa membawa sial bagi keluarga si pembuat.
Festival Lain yang Juga Dikenal Angker
Selain Nebuta, Jepang memiliki beberapa festival lain yang dianggap angker:
- Gion Matsuri (Kyoto)
Meskipun kini terkenal meriah, Gion Matsuri awalnya adalah ritual mengusir wabah yang dipercaya sebagai ulah roh marah. Di abad ke-9, Kyoto dilanda wabah besar. Penduduk menggelar ritual pemanggilan dewa untuk menenangkan roh jahat penyebab wabah. Aura mistis itu masih terasa hingga kini, terutama di malam-malam prosesi. - Obon Festival
Inilah perayaan arwah terbesar di Jepang. Obon diyakini sebagai saat roh leluhur pulang ke rumah. Keluarga menyalakan lentera untuk menuntun roh, lalu mengantarnya kembali ke dunia arwah lewat upacara "Toro Nagashi" (menghanyutkan lentera di sungai). Meskipun penuh kehangatan, Obon juga dianggap menyeramkan karena dipercaya roh gentayangan bisa ikut muncul bersama leluhur. - Namahage Sedo Matsuri (Akita)
Festival ini menampilkan sosok Namahage, makhluk setengah dewa yang berwajah iblis. Para pria dengan topeng menyeramkan masuk ke rumah-rumah, menakuti anak-anak, dan memeriksa perilaku keluarga. Konsepnya adalah mendidik, tapi aura menyeramkan membuat festival ini identik dengan cerita horor.
Mengapa Festival-Festival Ini Terasa Angker?
Ada beberapa alasan mengapa festival seperti Nebuta terasa angker:
- Musim Panas = Musim Hantu di Jepang
Budaya Jepang percaya bahwa roh lebih aktif di musim panas. Itulah mengapa banyak kisah hantu (kaidan) diceritakan pada musim ini. - Simbolisme Visual
Lampion berbentuk wajah seram, topeng iblis, atau arak-arakan lentera membuat atmosfer festival penuh aura mistis. - Asal-usul Ritual
Sebagian besar festival kuno lahir dari kepercayaan untuk mengusir wabah, bencana, atau roh jahat. Walaupun kini jadi hiburan, akarnya tetap spiritual. - Kisah Turun-Temurun
Mitos bahwa jika festival tidak dilaksanakan akan terjadi bencana membuat suasana semakin menyeramkan.
Antara Mistis dan Pariwisata
Menariknya, festival-festival angker ini justru menjadi daya tarik pariwisata. Wisatawan asing datang untuk menyaksikan keindahan lampion Nebuta atau keseruan Obon. Namun, bagi masyarakat lokal, nuansa spiritualnya tetap terasa. Ada penghormatan mendalam terhadap leluhur, dewa, dan keyakinan bahwa dunia gaib benar-benar hadir di tengah-tengah mereka.
Beberapa peneliti budaya Jepang bahkan menilai bahwa inilah yang membuat festival Jepang unik: mereka bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk komunikasi antara manusia dan alam semesta, termasuk dunia tak kasat mata.
Kesimpulan
Jepang menyimpan beragam festival dengan nuansa mistis dan angker, salah satunya Nebuta Matsuri di Aomori. Di balik kemegahan lampion raksasa dan sorak-sorai massa, festival ini menyimpan makna spiritual: melindungi masyarakat dari roh jahat, menyambut musim arwah, dan menjaga keseimbangan dunia manusia dengan dunia gaib.
Kisah-kisah mistis, simbol-simbol menyeramkan, hingga ritual kuno yang diwariskan turun-temurun membuat festival ini terasa lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah modernitas Jepang, masih ada ruang bagi hal-hal gaib yang membuat bulu kuduk merinding.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa festival paling angker di Jepang bukan hanya satu, melainkan rangkaian tradisi seperti Nebuta, Gion, Obon, hingga Namahage yang mengajarkan kita bahwa keindahan budaya sering kali berjalan beriringan dengan misteri