Danantara Siapkan Proyek Waste-to-Energy di Seluruh Indonesia

Pendahuluan

Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan besar sekaligus: krisis pengelolaan sampah dan kebutuhan energi yang terus meningkat. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa produksi sampah nasional telah mencapai lebih dari 68 juta ton per tahun, dan jumlah ini terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Di sisi lain, kebutuhan energi listrik Indonesia tumbuh rata-rata 6–7% per tahun, terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah melalui Danantara Indonesia, sebuah lembaga pengelola dana kedaulatan negara (sovereign wealth fund), mengumumkan rencana ambisius: meluncurkan proyek pembangkit listrik berbasis sampah (waste-to-energy) di berbagai kota besar sebelum akhir Oktober 2025.

Apa Itu Waste-to-Energy?

Waste-to-energy (WtE) adalah teknologi yang mengubah sampah padat perkotaan menjadi energi listrik melalui berbagai metode, seperti pembakaran langsung (incineration), gasifikasi, atau pirolisis.

Di Indonesia, model yang paling mungkin digunakan adalah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) berbasis pembakaran terkendali. Dalam proses ini, sampah dimasukkan ke dalam tungku pembakar khusus. Panas dari pembakaran tersebut kemudian dipakai untuk menghasilkan uap yang memutar turbin, lalu menghasilkan listrik.

Keuntungan utama teknologi ini adalah:

  1. Mengurangi volume sampah hingga 90%.
  2. Menghasilkan energi terbarukan yang dapat dipakai masyarakat.
  3. Mengurangi emisi metana dari timbunan sampah di TPA, yang selama ini menjadi sumber gas rumah kaca.

Rencana Proyek Danantara

Menurut laporan Reuters (30 September 2025), Danantara akan meluncurkan minimal 8 proyek pembangkit listrik berbasis sampah di beberapa kota besar Indonesia. Target awal mencakup kota-kota di Pulau Jawa dan Bali, karena kedua wilayah ini menyumbang produksi sampah terbesar sekaligus memiliki permintaan energi yang tinggi.

Skala dan Kapasitas

  • Setiap proyek akan menangani 1.000 ton sampah per hari.
  • Dari jumlah itu, diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 15 megawatt (MW) listrik.
  • Dengan 8 proyek, potensi listrik yang dihasilkan bisa mencapai 120 MW — cukup untuk menyuplai ratusan ribu rumah tangga.

Pendanaan

  • Semua proyek didanai oleh Danantara Indonesia, lembaga dana kedaulatan yang dibentuk untuk mendukung pembangunan strategis nasional.
  • Listrik yang dihasilkan akan dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai offtaker utama.
  • Pemerintah juga menegaskan bahwa proyek ini tidak akan lagi menggunakan tipping fee atau biaya tambahan yang dibebankan ke pemerintah daerah, sehingga lebih menarik secara finansial.

Tahap Awal

Kota yang diprioritaskan antara lain:

  • Jakarta
  • Bandung
  • Surabaya
  • Semarang
  • Denpasar
  • Yogyakarta
  • Bekasi
  • Tangerang

Latar Belakang: Krisis Sampah dan Energi di Indonesia

Masalah sampah di Indonesia sudah masuk kategori darurat. Beberapa fakta penting:

  • TPA Bantargebang di Bekasi, yang menampung sampah Jakarta, menerima hingga 7.000 ton sampah setiap hari, dan diprediksi kelebihan kapasitas dalam waktu dekat.
  • Sekitar 60% sampah di Indonesia masih dibuang ke TPA dengan metode open dumping, tanpa pengolahan.
  • Sampah plastik Indonesia adalah yang terbesar kedua di dunia yang mencemari lautan setelah Tiongkok.

Sementara itu, dalam sektor energi:

  • Indonesia masih bergantung pada batu bara untuk sekitar 60% pembangkit listriknya.
  • Target pemerintah adalah meningkatkan porsi energi terbarukan menjadi 23% pada 2025.
  • Namun, realisasinya baru sekitar 15% per 2024, sehingga target tersebut dinilai sulit tercapai tanpa inovasi baru.

Dengan kondisi ini, proyek waste-to-energy dipandang sebagai solusi dua masalah sekaligus: mengurangi beban sampah dan menambah pasokan energi bersih.

Dukungan Pemerintah

Pemerintah pusat sudah lama mendorong proyek waste-to-energy. Pada 2018, Presiden Joko Widodo pernah mengeluarkan Perpres No. 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Namun, banyak proyek PLTSa sebelumnya mandek karena masalah pendanaan, teknologi, dan penolakan masyarakat. Kini, dengan adanya Danantara sebagai pemodal kuat, serta dukungan penuh PLN sebagai pembeli listrik, pemerintah optimistis program ini bisa terealisasi.

Menteri ESDM juga menegaskan bahwa proyek ini akan dipercepat demi memenuhi kebutuhan energi sekaligus komitmen pengurangan emisi karbon.

Potensi Manfaat Ekonomi

  1. Penciptaan Lapangan Kerja
    Setiap proyek WtE akan membutuhkan ratusan pekerja, baik dalam pembangunan maupun operasional. Jika ada 8 proyek, ribuan lapangan kerja baru akan terbuka.
  2. Mengurangi Beban APBD
    Selama ini, biaya pengelolaan sampah banyak ditanggung oleh pemerintah daerah melalui tipping fee. Dengan model baru yang dibiayai Danantara, beban APBD bisa berkurang signifikan.
  3. Pasokan Energi Stabil
    Tidak seperti tenaga surya atau angin yang bergantung pada cuaca, listrik dari sampah bisa dihasilkan 24 jam nonstop, sehingga memberi stabilitas tambahan pada sistem kelistrikan nasional.

Tantangan yang Dihadapi

Meski prospeknya menjanjikan, proyek ini tidak lepas dari tantangan:

  1. Teknologi dan Efisiensi
    Banyak PLTSa di negara berkembang gagal karena biaya operasional tinggi dan pasokan sampah tidak stabil. Indonesia harus memastikan teknologi yang dipakai benar-benar sesuai.
  2. Isu Lingkungan
    Proses pembakaran sampah bisa menghasilkan polusi udara (seperti dioksin dan furan) jika tidak dilengkapi dengan sistem penyaring canggih. Masyarakat sekitar sering menolak proyek WtE karena khawatir kesehatan terganggu.
  3. Manajemen Sampah
    Sampah di Indonesia masih bercampur antara organik, plastik, dan bahan berbahaya. Jika tidak ada sistem pemilahan sejak awal, kualitas bahan bakar sampah rendah dan menyulitkan operasional.
  4. Keterlibatan Masyarakat
    Edukasi publik diperlukan agar warga mendukung proyek ini. Tanpa partisipasi masyarakat, sulit memastikan pasokan sampah berkualitas untuk PLTSa.

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara telah sukses mengelola waste-to-energy:

  • Jepang: Hampir semua kota besar memiliki PLTSa modern dengan sistem filtrasi canggih.
  • Swedia: Lebih dari 50% sampah rumah tangga diubah menjadi energi, bahkan negara ini mengimpor sampah dari negara lain.
  • Singapura: Mengoperasikan empat fasilitas WtE yang menyumbang 3% kebutuhan listrik nasional.

Namun, kesuksesan negara tersebut bergantung pada disiplin pemilahan sampah dan regulasi ketat terhadap emisi. Indonesia perlu belajar dari praktik-praktik ini agar tidak mengulangi kegagalan masa lalu.

Kesimpulan

Proyek waste-to-energy oleh Danantara Indonesia adalah salah satu langkah paling strategis dalam menjawab krisis sampah sekaligus kebutuhan energi. Jika terealisasi, Indonesia bisa:

  • Mengurangi ketergantungan pada batu bara.
  • Mengurangi tumpukan sampah di TPA.
  • Memberi manfaat ekonomi sekaligus mendukung target net zero emission pada 2060.

Namun, keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada teknologi yang digunakan, transparansi pendanaan, partisipasi masyarakat, dan pengawasan lingkungan. Tanpa itu, proyek bisa gagal seperti banyak PLTSa sebelumnya.

Dengan rencana peluncuran 8 proyek pada Oktober 2025, publik kini menunggu apakah Indonesia bisa benar-benar membuktikan bahwa sampah, yang selama ini dianggap masalah, bisa menjadi sumber energi masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *