Trump–Xi Bertemu di Busan: Gencatan Dagang, Diplomasi Dingin yang Mencair Perlahan

Busan, Korea Selatan — Oktober 2025

Setelah hampir enam tahun tanpa pertemuan langsung, dua tokoh paling berpengaruh dalam peta politik global kembali duduk satu meja. Donald Trump dan Xi Jinping bertemu di Busan, Korea Selatan, pada Kamis pagi waktu setempat dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pasifik (APEC). Pertemuan ini menjadi momentum penting, tidak hanya bagi hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi dunia yang dalam beberapa tahun terakhir diguncang oleh perang dagang, pandemi, dan rivalitas teknologi.


Pertemuan yang Lama Dinanti

Sejak terakhir kali bertatap muka pada KTT G20 di Osaka tahun 2019, hubungan Washington dan Beijing terus menurun. Ketegangan meningkat akibat perang tarif, larangan ekspor teknologi semikonduktor, hingga tudingan soal pandemi COVID-19. Dalam konteks itu, pertemuan Busan bukan sekadar simbol diplomasi; ia menjadi ujian apakah dua kekuatan besar masih mampu menahan diri sebelum rivalitas mereka menjelma menjadi konfrontasi yang lebih terbuka.

Trump, yang kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025, datang dengan gaya khasnya: penuh percaya diri dan retorika keras. Ia menyebut pertemuan ini sebagai “a great restart,” sebuah upaya memulai kembali hubungan dua negara dengan “syarat yang adil bagi Amerika.”
Sementara Xi Jinping tiba lebih tenang. Dalam pidato pembukaannya, Xi menekankan pentingnya “kerja sama yang saling menghormati” dan memperingatkan agar tidak ada pihak yang “memaksakan model ekonomi atau nilai politiknya kepada negara lain.”

Keduanya kemudian mengadakan pertemuan tertutup selama dua jam di Hotel Paradise Busan, didampingi oleh penasihat ekonomi, perdagangan, dan keamanan nasional masing-masing.


Isi Kesepakatan: Gencatan Dagang Satu Tahun

Hasil utama dari pertemuan itu adalah kesepakatan gencatan perdagangan selama satu tahun. Dalam pernyataan bersama, Washington berjanji untuk menunda penerapan tarif global baru terhadap logam tanah jarang dan produk teknologi asal Tiongkok, serta menangguhkan sebagian pembatasan ekspor semikonduktor berteknologi tinggi. Sebagai imbalan, Beijing berkomitmen untuk membeli kembali produk pertanian Amerika — terutama kedelai, jagung, dan daging sapi — dengan nilai mencapai 60 miliar dolar AS sepanjang 2026.

Selain itu, kedua negara juga sepakat membentuk “komite teknis bersama” untuk membahas keamanan rantai pasok dan transparansi ekspor fentanyl, yang selama ini menjadi isu sensitif dalam hubungan mereka. Fentanyl, opioid sintetis yang mematikan, telah menimbulkan krisis di AS dan sering disebut berasal dari laboratorium-laboratorium di Tiongkok.

Meski kesepakatan ini tampak menjanjikan, banyak analis menilai langkah ini lebih bersifat taktis ketimbang strategis. “Ini bukan akhir dari perang dagang, melainkan jeda sementara,” ujar Profesor Helen Zhang, analis geopolitik di Universitas Tsinghua, kepada The Diplomat. “Kedua pihak hanya sedang membeli waktu.”


Busan Sebagai Panggung Diplomasi

Pemilihan Busan sebagai lokasi pertemuan juga bukan tanpa simbol. Kota pelabuhan terbesar kedua di Korea Selatan itu telah berkembang menjadi pusat logistik dan perdagangan internasional di Asia Timur. Pemerintah Seoul sengaja mendorong Busan menjadi tuan rumah KTT APEC 2025 sebagai bagian dari strategi menjadikan Korea Selatan “jembatan diplomasi” antara Washington dan Beijing.

Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-yeol, menyebut momen itu sebagai “langkah menuju Asia yang stabil.” Ia bahkan sempat menjadi mediator informal dalam beberapa isu teknis, terutama mengenai peraturan ekspor chip memori yang juga menjadi kepentingan vital bagi Korea.

“Busan hari ini menjadi simbol bahwa Asia tidak lagi hanya menjadi penonton dalam rivalitas kekuatan besar,” kata Yoon dalam konferensi pers penutupan KTT. “Kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan korban.”


Reaksi Dunia: Harapan dan Skeptisisme

Pasar global langsung merespons positif. Bursa saham di Tokyo, Hong Kong, dan New York sama-sama mencatat kenaikan tajam. Harga tembaga, nikel, dan logam tanah jarang menurun, menandakan optimisme bahwa pasokan industri teknologi akan kembali lancar.

Namun, di balik euforia pasar, skeptisisme tetap kuat. Uni Eropa, yang sedang memperkuat kebijakan industrinya sendiri, menilai kesepakatan itu “rapuh” karena tidak menyentuh akar persoalan: perbedaan sistem ekonomi. Para diplomat Eropa menyebut, tanpa mekanisme penegakan yang jelas, kesepakatan dagang AS-China bisa sewaktu-waktu runtuh jika kepentingan politik domestik berubah.

Sementara itu, Jepang dan Australia — dua sekutu dekat AS — menyambut hati-hati. Mereka khawatir Washington terlalu fokus pada transaksi ekonomi jangka pendek dan melupakan strategi jangka panjang menghadapi pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik.

Di sisi lain, negara-negara ASEAN melihat peluang. Vietnam dan Indonesia, misalnya, berharap stabilitas antara dua raksasa ini dapat membuka ruang investasi baru di sektor manufaktur dan teknologi. Bahkan Kamboja, yang selama ini lebih dekat dengan Beijing, disebut tengah menyiapkan proposal proyek infrastruktur bersama dengan perusahaan-perusahaan Amerika.


Motif Politik di Balik Kesepakatan

Di balik bahasa diplomatik yang manis, ada kalkulasi politik yang nyata. Trump menghadapi tekanan domestik menjelang pemilu paruh waktu 2026. Ekonomi Amerika yang mulai melambat dan inflasi yang masih tinggi memaksanya menunjukkan hasil konkret dalam diplomasi ekonomi. Kesepakatan dagang dengan China menjadi alat untuk menunjukkan bahwa ia mampu “memenangkan kesepakatan besar” bagi petani dan industri Amerika.

Sementara bagi Xi Jinping, tekanan datang dari dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi China yang melambat ke angka di bawah 4% dan tingginya pengangguran muda memaksa Beijing mencari cara menenangkan pasar dan investor. Dengan menunda eskalasi perang dagang, Xi mendapat waktu untuk fokus pada stabilisasi ekonomi domestik tanpa terlihat “menyerah” pada tekanan AS.

Dengan kata lain, Busan menjadi panggung bagi dua pemimpin yang sama-sama ingin tampil kuat di mata publiknya — tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalah.


Isu-Isu yang Belum Terselesaikan

Meski gencatan dagang telah disepakati, masih banyak isu yang menggantung. Pertama, soal keamanan teknologi dan siber. AS tetap berkomitmen membatasi ekspor chip berteknologi tinggi yang bisa digunakan untuk aplikasi militer di China. Beijing memprotes keras kebijakan ini dan menyebutnya sebagai “pelanggaran terhadap prinsip perdagangan bebas.”

Kedua, ketegangan di Laut China Selatan belum menunjukkan tanda mereda. AS tetap melakukan patroli kebebasan navigasi bersama sekutunya, sementara kapal-kapal penjaga pantai China terus memperkuat kehadiran di perairan sengketa.

Ketiga, isu hak asasi manusia — terutama di Xinjiang dan Hong Kong — tetap menjadi duri dalam hubungan kedua negara. Tidak satu pun dari isu ini disebut secara eksplisit dalam pernyataan resmi pertemuan Busan.


Analisis: Jalan Panjang Menuju Kepercayaan

Pertemuan Trump–Xi di Busan adalah langkah maju, tapi langkah yang masih penuh tanda tanya. Gencatan dagang bisa membawa ketenangan jangka pendek, namun tidak menjamin perdamaian jangka panjang.

Hubungan Amerika–Tiongkok kini bukan sekadar soal tarif dan perdagangan, melainkan tentang kepemimpinan global di abad ke-21. Teknologi, keamanan siber, perubahan iklim, hingga pengaruh budaya — semua menjadi medan perebutan pengaruh. Dalam konteks itu, Busan hanyalah babak baru dari drama panjang dua kekuatan yang saling membutuhkan namun juga saling mencurigai.

Sejarah menunjukkan, perdamaian ekonomi sering kali rapuh tanpa fondasi kepercayaan politik. Selama Washington dan Beijing masih melihat satu sama lain sebagai ancaman, setiap kesepakatan hanya akan menjadi “jeda sebelum badai berikutnya.”


Penutup

Ketika delegasi kedua negara meninggalkan Busan, dunia menarik napas lega — setidaknya untuk sementara. Namun, di balik jabat tangan hangat dan senyum diplomatik, masih ada ketegangan yang belum selesai.

Bagi dunia, terutama Asia, pertemuan ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru hubungan AS–China. Dan seperti pepatah Tiongkok, “Gunung yang tinggi pun dimulai dari segenggam tanah.” Busan mungkin hanyalah segenggam tanah itu — kecil, tapi berpotensi menentukan arah masa depan dunia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *