
KTT APEC 2025 resmi berakhir di Busan dengan sebuah capaian yang mengejutkan banyak pihak: Amerika Serikat dan China menyetujui gencatan dagang selama satu tahun. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah penting untuk menurunkan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia setelah bertahun-tahun perang tarif dan kebijakan proteksionis.
Momen ini juga menandai titik balik bagi kawasan Asia-Pasifik, yang selama satu dekade terakhir menjadi arena utama perebutan pengaruh ekonomi antara Washington dan Beijing.
Latar Belakang: Ketegangan Lama yang Mencapai Puncaknya
Hubungan ekonomi AS–China telah lama tegang sejak perang dagang dimulai pada 2018. Serangkaian tarif saling balas, larangan ekspor teknologi, dan pembatasan akses pasar membuat rantai pasok global terguncang.
Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada awal 2025 memperburuk ketidakpastian. Ia segera mengumumkan tarif global sebesar 10% terhadap lebih dari 100 negara, termasuk sekutu lama seperti Jepang dan Korea Selatan. China membalas dengan menaikkan bea masuk terhadap produk agrikultur dan teknologi Amerika.
Ketika KTT APEC 2025 diumumkan akan diadakan di Korea Selatan, banyak analis menilai bahwa forum ini akan menjadi ajang konfrontasi diplomatik antara dua kekuatan besar. Namun, hasil akhirnya justru di luar dugaan: kedua pihak sepakat untuk menurunkan tensi.
Isi Kesepakatan Gencatan Dagang
Kesepakatan gencatan yang diumumkan pada hari terakhir APEC 2025 mencakup tiga poin utama:
- Penundaan Tarif Baru
Amerika Serikat menunda penerapan tarif baru atas impor logam tanah jarang, baterai, dan semikonduktor dari China selama satu tahun ke depan.
Sebagai gantinya, China setuju untuk tidak menaikkan tarif atas produk pertanian dan energi dari AS. - Peningkatan Perdagangan Agrikultur dan Energi
China berjanji membeli produk pertanian Amerika senilai USD 60 miliar sepanjang tahun 2026, mencakup kedelai, jagung, dan daging sapi.
Selain itu, Beijing akan meningkatkan impor gas alam cair (LNG) dari AS untuk memperkuat ketahanan energinya. - Pembentukan “Joint Economic Stabilization Task Force”
Sebuah tim gabungan dibentuk untuk memantau implementasi kesepakatan ini dan mengkaji potensi kerja sama baru, khususnya dalam keamanan rantai pasok dan regulasi ekspor teknologi.
Kesepakatan ini tidak mencakup isu-isu strategis seperti keamanan siber atau hak kekayaan intelektual, namun dianggap sebagai langkah awal menuju de-eskalasi yang lebih besar.
Pertemuan Trump–Xi di Busan: Diplomasi di Tengah Ketegangan
Pertemuan bilateral antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di sela-sela KTT APEC menjadi sorotan utama.
Keduanya bertemu di Paradise Hotel Busan, ditemani Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.
Trump menyebut pertemuan itu sebagai “a big win for America and the world.”
Ia mengatakan, “Kami tidak perlu terus berperang soal tarif. Kami bisa bersaing secara adil.”
Sementara Xi menegaskan bahwa China “selalu memilih stabilitas daripada konfrontasi.”
Ia menambahkan, “Kita semua hidup di satu bumi yang sama. Perang dagang tidak menguntungkan siapa pun.”
Sumber diplomatik dari Korea Selatan menyebut bahwa mediasi informal juga dilakukan oleh Presiden Yoon Suk-yeol, yang berperan penting dalam memfasilitasi komunikasi di antara kedua pihak.
Reaksi Dunia: Antara Harapan dan Skeptisisme
Kabar gencatan dagang ini langsung menggerakkan pasar global.
Indeks Nikkei di Jepang naik 2,3%, Hang Seng di Hong Kong melonjak 3%, sementara Dow Jones di AS juga mencatat kenaikan 1,5% pada pembukaan perdagangan.
Harga logam seperti nikel dan tembaga — yang selama ini sangat terpengaruh oleh kebijakan tarif — juga ikut turun, pertanda optimisme bahwa pasokan akan kembali lancar.
Namun, tidak semua pihak menyambut dengan euforia.
Beberapa ekonom memperingatkan bahwa kesepakatan ini mungkin hanya bersifat “jeda taktis” menjelang pemilu paruh waktu di AS tahun depan.
Dr. Helen Zhang dari Universitas Tsinghua menilai,
“Trump butuh pencapaian ekonomi untuk pasar domestik, sementara Xi ingin menghindari tekanan lebih lanjut pada ekspor dan pengangguran. Keduanya sedang membeli waktu.”
Uni Eropa juga menanggapi dengan hati-hati. Seorang pejabat Komisi Eropa menyebut,
“Selama ini kami mendukung stabilitas perdagangan, tetapi kami perlu melihat bukti implementasi sebelum menyimpulkan ini adalah perubahan nyata.”
Implikasi untuk Kawasan Asia-Pasifik
Kesepakatan AS–China di Busan membawa efek domino bagi seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Negara-negara anggota APEC lainnya — seperti Korea Selatan, Jepang, dan ASEAN — melihat peluang baru untuk memperkuat rantai pasok regional tanpa harus memilih sisi antara dua kekuatan besar.
1. Bagi ASEAN
Negara-negara Asia Tenggara kemungkinan menjadi penerima manfaat terbesar dari penurunan tensi ini.
- Vietnam dapat memperluas ekspor elektroniknya karena rantai pasok kembali stabil.
- Indonesia dan Malaysia berpotensi menarik lebih banyak investasi AS di sektor manufaktur.
- Kamboja dan Laos diuntungkan dari peluang perdagangan tekstil dan agrikultur yang lebih besar.
2. Bagi Korea Selatan
Sebagai tuan rumah APEC 2025, Korea Selatan berhasil menunjukkan peran sebagai mediator diplomatik.
Busan kini disebut-sebut sebagai “kota perdamaian ekonomi baru,” menyusul keberhasilannya memfasilitasi dialog yang produktif antara dua raksasa dunia.
3. Bagi China dan AS
China mendapatkan ruang bernapas bagi perekonomian domestiknya yang sedang melambat, sementara AS memperoleh keuntungan politik menjelang tahun pemilu.
Namun, banyak pihak menilai kedua negara tetap bersaing ketat di bidang teknologi tinggi, AI, dan semikonduktor.
Ekonomi Global: Nafas Baru untuk Rantai Pasok Dunia
Sebelum kesepakatan ini, rantai pasok global mengalami gangguan besar akibat perang tarif dan pandemi.
Perusahaan-perusahaan teknologi dan manufaktur terpaksa memindahkan produksi dari China ke negara lain, yang menyebabkan biaya produksi meningkat.
Dengan adanya gencatan, banyak perusahaan mulai meninjau kembali strategi mereka.
Perusahaan seperti Apple, Tesla, dan Intel dikabarkan mempertimbangkan untuk kembali meningkatkan kapasitas di Asia, dengan pendekatan “China +1” — tetap menggunakan China sebagai basis utama, tapi menambah fasilitas di negara ASEAN.
Selain itu, stabilitas ini juga memberi angin segar bagi harga komoditas. Negara eksportir seperti Indonesia (nikel) dan Australia (bijih besi) berpotensi menikmati lonjakan permintaan baru dari industri elektronik dan energi hijau.
Tantangan ke Depan
Meski kesepakatan Busan dianggap langkah maju, banyak analis menilai jalan menuju perdamaian dagang sejati masih panjang.
Beberapa isu utama masih belum tersentuh, seperti:
- Pembatasan ekspor semikonduktor canggih AS ke China;
- Akses pasar bagi perusahaan teknologi Amerika di China;
- Dan masalah subsidi industri China yang dinilai “tidak adil” oleh Barat.
Selain itu, jika politik domestik di Washington dan Beijing kembali panas, kesepakatan ini bisa sewaktu-waktu dibatalkan.
Kesimpulan: Titik Balik atau Sekadar Jeda?
KTT APEC 2025 di Busan akan tercatat dalam sejarah sebagai momen langka di mana dua rival besar memilih berdamai — meski sementara.
Bagi banyak negara Asia, langkah ini memberikan harapan akan stabilitas baru dalam perdagangan dan investasi.
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung:
Apakah ini awal dari rekonsiliasi jangka panjang, atau hanya “jeda” sebelum babak baru perang dagang dimulai?
Seperti dikatakan seorang diplomat Korea,
“Busan hari ini bukan akhir dari rivalitas AS–China. Tapi mungkin, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, dunia punya alasan untuk sedikit optimis