Harga Beras di Maluku–Papua Masih Tinggi Jelang Nataru 2025/2026

Harga beras di wilayah Indonesia Timur masih bertahan tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat tekanan harga paling terasa di zona 3, yakni Maluku dan Papua.

Sebaliknya, wilayah lain menunjukkan tren yang lebih baik. Perbedaan ini memperlebar jarak harga antarwilayah dan menuntut perhatian khusus pemerintah.

Harga Zona 3 Masih di Atas HET

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyampaikan bahwa harga beras medium dan premium di zona 1 dan zona 2 telah turun signifikan. Bahkan, harga di dua zona tersebut kini berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

Namun demikian, Maluku–Papua masih mencatat harga di atas HET. Menurut Maino, harga di zona 3 belum bergerak turun dan cenderung stabil tinggi.

“Harga beras medium dan premium di zona 1 dan 2 sudah turun dan berada di bawah HET. Namun, di zona 3 Maluku–Papua, harganya masih stabil tinggi,” ujarnya.

Geografis dan Logistik Dorong Tekanan Harga

Kondisi geografis kepulauan meningkatkan biaya logistik di Indonesia Timur. Selain itu, keterbatasan infrastruktur membebani rantai pasok sehingga harga di tingkat konsumen ikut naik.

Sebaliknya, zona 1 dan 2 memiliki akses distribusi yang lebih lancar. Oleh karena itu, pasokan lebih stabil dan harga lebih cepat terkendali.

Jelang Nataru, Pemerintah Perketat Pengawasan

Menjelang Nataru, permintaan pangan biasanya meningkat. Untuk itu, pemerintah memperketat pengawasan harga, khususnya di wilayah bertekanan tinggi seperti Maluku–Papua.

Bapanas bersama pemerintah daerah memantau harga harian dan menyiapkan langkah antisipatif agar lonjakan tidak membebani masyarakat.

Upaya Stabilisasi Terus Diperkuat

Pemerintah menjadikan stabilisasi harga pangan sebagai prioritas. Strateginya meliputi optimalisasi cadangan beras pemerintah, percepatan distribusi dari daerah surplus ke defisit, serta penguatan koordinasi dengan distributor.

Langkah-langkah ini diharapkan memperbaiki kelancaran pasokan dan menekan disparitas harga.

Tantangan Distribusi di Indonesia Timur

Distribusi ke Maluku dan Papua masih menghadapi tantangan. Jarak tempuh yang jauh dan cuaca meningkatkan biaya angkut. Selain itu, ketergantungan pasokan dari luar daerah membuat harga rentan berfluktuasi saat terjadi gangguan.

Harapan ke Depan

Ke depan, pemerintah menargetkan harga beras lebih stabil melalui intervensi berkelanjutan dan penguatan produksi lokal. Dengan demikian, disparitas harga antarwilayah dapat berkurang secara bertahap.

Kesimpulan

Harga beras Maluku–Papua masih tinggi menjelang Nataru 2025/2026. Meski zona lain sudah turun di bawah HET, zona 3 masih menghadapi tantangan distribusi dan logistik. Melalui pengawasan ketat dan langkah stabilisasi, pemerintah berupaya menjaga pasokan dan melindungi daya beli masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *