
Bitcoin Kembali Melemah Setelah Sepekan Tertekan
Harga Bitcoin kembali tergelincir ke US$109.000 pada Jumat (17/10/2025), turun sekitar 2,3% dibanding hari sebelumnya.
Level tersebut menjauh dari titik psikologis US$110.000, yang sempat menjadi batas pertahanan penting para investor.
Dalam sepekan terakhir, Bitcoin sudah kehilangan hampir 10% nilainya, meski sepanjang tahun 2025 masih mencatat kenaikan sekitar 19%.
Penurunan ini memperlihatkan bahwa tekanan dari faktor makroekonomi global belum sepenuhnya mereda.
Ekonomi AS dan Ancaman Shutdown Jadi Pemicu
Analis menilai pelemahan harga Bitcoin kali ini banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat.
Ancaman penutupan sebagian pemerintahan (shutdown) membuat pelaku pasar enggan mengambil risiko tambahan di aset berisiko tinggi, termasuk kripto.
Selain itu, data inflasi dan tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan juga menimbulkan spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini mendorong investor kembali masuk ke aset dolar AS dan obligasi, meninggalkan pasar kripto untuk sementara waktu.
Dominasi Short Seller di Pasar Derivatif
Menurut laporan Velo dan CryptoQuant, tekanan terbesar terhadap harga Bitcoin berasal dari pasar derivatif.
Trader dengan posisi short (bertaruh harga turun) mendominasi transaksi futures selama beberapa hari terakhir.
Jumlah kontrak short yang terbuka meningkat signifikan, menandakan banyak pelaku pasar masih memperkirakan Bitcoin akan melemah dalam waktu dekat.
Di sisi lain, permintaan di pasar spot — tempat pembelian langsung Bitcoin — justru terus menurun.
Kombinasi dua faktor ini membuat tekanan jual semakin besar.
Sentimen Pasar Masih Negatif
Volume perdagangan harian di bursa kripto besar seperti Binance, Coinbase, dan OKX juga menunjukkan perlambatan.
Banyak trader memilih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi global sebelum kembali masuk ke pasar.
Meski begitu, beberapa analis melihat koreksi kali ini masih tergolong sehat.
Menurut mereka, penurunan harga justru memberi kesempatan bagi investor jangka panjang untuk menambah posisi di level bawah.
Namun, momentum pemulihan baru akan muncul jika tekanan makroekonomi di AS mulai mereda.
Investor Beralih ke Aset Stabil
Sementara pasar kripto tertekan, sebagian dana investor berpindah ke aset yang lebih stabil, seperti obligasi jangka pendek dan stablecoin.
Perpindahan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengelola risiko.
Stablecoin seperti USDT dan USDC mencatat peningkatan volume transaksi harian, menandakan banyak investor menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Bitcoin.
Kondisi ini memperlihatkan perubahan pola investasi dari spekulatif ke defensif.
Prediksi ke Depan: Konsolidasi Masih Berlanjut
Beberapa analis memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak di kisaran US$105.000–US$112.000 dalam beberapa minggu ke depan.
Tekanan global, terutama dari kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar, akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.
Namun, bila inflasi AS mulai turun dan sinyal pelonggaran moneter muncul, Bitcoin berpotensi memulihkan posisinya di atas US$115.000.
Selama itu belum terjadi, pasar kemungkinan masih bergerak terbatas dengan volatilitas tinggi.
Kesimpulan
Penurunan harga Bitcoin ke US$109.000 mencerminkan tekanan ganda dari ketidakpastian ekonomi AS dan dominasi short seller di pasar derivatif.
Meskipun koreksi ini cukup tajam, fundamental jangka panjang Bitcoin tetap kuat karena adopsi global terus meningkat.
Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi jangka pendek dan menyesuaikan strategi sesuai profil risiko.
Selama faktor makro belum stabil, pasar kripto kemungkinan masih akan bergerak hati-hati di kisaran sempit.