Harga CPO Turun di Bawah MYR4.200, Namun Masih Cetak Kenaikan Mingguan

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melemah pada perdagangan Jumat (23/1/2026) dan kembali bergerak ke bawah level MYR4.200 per ton. Pelemahan ini sekaligus mengakhiri reli tiga hari berturut-turut yang sebelumnya membawa harga ke posisi tertinggi tujuh pekan.

Berdasarkan data pasar, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,57 persen ke level 4.174 ringgit Malaysia per ton. Koreksi tersebut muncul setelah pelaku pasar melakukan aksi ambil untung di tengah penguatan nilai tukar ringgit.


Aksi Ambil Untung Tekan Harga CPO

Penguatan ringgit terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga CPO. Ketika ringgit menguat, harga komoditas berbasis mata uang tersebut menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Akibatnya, minat beli cenderung menurun dalam jangka pendek.

Selain itu, pelaku pasar juga memilih merealisasikan keuntungan setelah harga CPO sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir. Kondisi ini mendorong tekanan jual, khususnya dari investor jangka pendek.


Tekanan Tambahan dari Bursa Global

Sentimen negatif juga datang dari pelemahan kontrak minyak sawit di bursa Dalian, China. Penurunan harga di pasar China kerap memengaruhi pergerakan CPO Malaysia karena China menjadi salah satu konsumen utama minyak nabati global.

Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turut melemah. Karena minyak kedelai bersaing langsung dengan CPO sebagai bahan baku minyak nabati, pergerakan harga di CBOT sering memengaruhi arah pasar CPO.


Tren Mingguan Masih Positif

Meski terkoreksi pada perdagangan terakhir pekan ini, harga CPO tetap berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Sepanjang pekan ini, kontrak CPO mencatatkan penguatan lebih dari 2,53 persen.

Kinerja positif tersebut mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek permintaan jangka pendek. Investor menilai koreksi saat ini lebih bersifat teknikal dibandingkan perubahan fundamental.


Permintaan Musiman Jadi Penopang

Ekspektasi peningkatan permintaan menjelang Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan menjadi faktor utama yang menopang harga CPO. Kedua momentum tersebut biasanya mendorong konsumsi minyak nabati, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri makanan.

Seiring mendekatnya Februari, pelaku pasar mulai mengantisipasi lonjakan permintaan dari negara-negara Asia, terutama China dan India. Kondisi ini memberikan bantalan bagi harga CPO meskipun tekanan jangka pendek masih muncul.


Pasokan Jangka Pendek Kian Ketat

Selain faktor permintaan, pasar juga mencermati kondisi pasokan CPO yang relatif ketat dalam jangka pendek. Produksi sawit biasanya melambat pada awal tahun akibat faktor cuaca dan siklus panen.

Penurunan produksi ini berpotensi membatasi tekanan penurunan harga. Oleh karena itu, banyak analis menilai ruang koreksi CPO tetap terbatas selama pasokan belum pulih signifikan.


Peran Nilai Tukar Masih Krusial

Pergerakan nilai tukar ringgit diperkirakan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga CPO ke depan. Jika ringgit terus menguat, tekanan terhadap harga CPO kemungkinan berlanjut.

Namun sebaliknya, pelemahan ringgit dapat membuka ruang penguatan harga, terutama jika dibarengi dengan peningkatan permintaan ekspor.


Pandangan Analis Pasar

Sejumlah analis menilai tren jangka menengah CPO masih cenderung positif. Mereka melihat kombinasi antara permintaan musiman, pasokan terbatas, dan stabilnya harga minyak nabati global sebagai faktor pendukung.

Meski demikian, analis juga mengingatkan potensi volatilitas yang tinggi. Perubahan sentimen global, termasuk pergerakan harga energi dan kebijakan moneter, dapat memicu fluktuasi harga dalam waktu singkat.


Strategi Pelaku Pasar

Dalam kondisi saat ini, pelaku pasar cenderung menerapkan strategi selektif. Investor jangka pendek memanfaatkan volatilitas untuk trading, sementara investor jangka menengah menunggu konfirmasi arah tren.

Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian pasar di tengah kombinasi sentimen positif dan tekanan eksternal.


Kesimpulan

Harga CPO melemah ke bawah MYR4.200 per ton akibat penguatan ringgit dan aksi ambil untung. Namun demikian, tren mingguan masih menunjukkan penguatan yang solid. Dukungan permintaan musiman serta pasokan jangka pendek yang ketat memberi harapan bagi pergerakan harga ke depan.

Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau pergerakan mata uang, harga minyak nabati global, serta perkembangan permintaan menjelang perayaan besar di Asia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *