Laboratorium Uji Bahan Baku Ekspor Perikanan RI Dinilai Tertinggal

11 September 2025 | 08.30 WIB

Ekspor perikanan Indonesia terus meningkat. Namun, sebagian pihak menilai bahwa laboratorium uji bahan baku ekspor masih tertinggal. Hal ini bisa berdampak pada kualitas dan daya saing produk perikanan nasional di pasar global.

Sebagian stakeholders menyebut kendala teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan akreditasi bisa menyulitkan kelancaran ekspor. Padahal, kinerja eksport terus dituntut memenuhi standar internasional yang ketat.


Kondisi Laboratorium Uji Mutu

Beberapa laboratorium pemerintah, seperti BKIPM dan BBP3KP, telah terakreditasi ISO 17025 atau KAN. Mereka melayani uji mikrobiologi, residu kimia, dan parameter lainnya. kkp.go.id+1

Meski demikian, akses dan modernitas peralatan masih terkendala. Beberapa lokasi terpencil belum memiliki fasilitas memadai. Hal ini dinilai menghambat pemerataan mutu pengujian.


Masih Ada Tantangan Teknologi dan Infrastruktur

Menteri Kelautan dan Perikanan menekankan pentingnya memutakhirkan alat uji sendiri, tanpa bergantung pihak ketiga. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan belum semua lab favor terus diperbarui. Antara News

Badan Standardisasi Nasional (BSN) terus mendorong standarisasi laboratorium dan logistik rantai dingin. Tapi, implementasi secara menyeluruh masih butuh waktu dan dana. BSN


Akreditasi dan Jaminan Mutu Terbatas

BPPMHKP mencatat memiliki kapasitas laboratorium pada 34 jenis parameter mutu. Layanan ini tersedia di 46 UPT, termasuk mikrobiologi, logam berat, parasit, hingga uji molekuler. kkp.go.id+1

Meski demikian, belum semua lab memiliki akreditasi internasional. Keterbatasan ini bisa memicu keraguan atau bahkan penolakan di negara tujuan ekspor.


Dampaknya pada Ekspor Perikanan

Indonesia mengekspor produk perikanan ke 140 negara sepanjang 2024. Hal ini didukung oleh sistem jaminan mutu dan sertifikasi ketat. kkp.go.id+1

Namun, jika laboratorium uji terus tertinggal, maka risiko hasil tak memenuhi syarat meningkat. Itu bisa memperlambat proses sertifikasi hingga menurunkan kepercayaan buyer internasional.


Pentingnya SDM Kompeten dan Kolaborasi

Jejaring laboratorium di sektor perikanan perlu ditingkatkan, terutama dalam pengujian kontaminasi seperti mikroplastik. KKP sudah menjalin dialog teknis dan pelatihan bersama BSN serta laboratorium lain. kkp.go.id

Investasi dalam SDM dan teknologi sangat dibutuhkan agar laboratorium dapat mengikuti standar global yang terus berkembang.


Risiko bagi Industri Perikanan

Jika laboratorium tetap tertinggal, sejumlah risiko bisa muncul:

  • Penolakan produk di negara importir
  • Kenaikan waktu uji yang memperlambat ekspor
  • Hilangnya peluang pasar premium seperti AS, Uni Eropa, Jepang
  • Kepercayaan buyer menurun meski volume ekspor tinggi Antara News+1

Solusi dan Rekomendasi

Berikut beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan:

  1. Modernisasi peralatan secara bertahap, dengan prioritas di lab utama ekspor.
  2. Penyebaran laboratorium terakreditasi di wilayah strategis.
  3. Pelatihan SDM secara berkelanjutan agar siap menghadapi standar global.
  4. Kolaborasi dengan Swasta dan Internasional, seperti Sucofindo, SGS, dan lembaga riset terakreditasi. dinaskp.gorontaloprov.go.id
  5. Transportasi cepat antar lab untuk mempercepat proses uji dan distribusi hasil.

Kesimpulan

Saat ini, Indonesia sudah punya pondasi laboratorium uji ekspor yang cukup solid. Namun, masih ada tantangan serius terkait modernitas alat, distribusi layanan, dan SDM. Hal ini berpotensi menurunkan daya saing ekspor perikanan jika tidak diatasi.

Perbaikan dan kolaborasi lintas sektor sangat penting. Jika dilakukan baik dan konsisten, laboratorium perikanan Indonesia tidak hanya mengejar ketinggalan, tetapi bisa menjadi unggul di kelas internasional.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *