NKB Emiten Konstruksi 2025: TOTL Tembus Target, Sektor Bangunan Hadapi Tantangan Pendanaan

Pendahuluan

Sektor konstruksi kembali menjadi sorotan menjelang akhir tahun 2025. Sejumlah emiten sudah merilis capaian nilai kontrak baru (NKB), laporan kinerja kuartal terakhir, serta target yang ingin mereka kejar pada tahun depan. Bahkan, pasar modal mulai menilai ulang potensi pertumbuhan masing-masing emiten karena kondisi pendanaan semakin ketat, sementara pemerintah tetap memberi prioritas penuh pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Riset Stockbit pada Jumat (5/12/2025) menunjukkan bahwa capaian kontrak baru emiten konstruksi bergerak sangat beragam. Ada perusahaan yang berhasil mencatat kontrak di atas target, namun ada juga yang justru tertinggal jauh dari proyeksi awal.

Di tengah dinamika tersebut, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) menjadi emiten yang tampil paling solid.


TOTL Melesat Melebihi Target NKB 2025

Hingga pertengahan November 2025, TOTL berhasil mengamankan nilai kontrak baru sebesar Rp5,27 triliun. Angka ini sudah berada 5 persen di atas target tahunan yang mereka tetapkan, yaitu Rp5 triliun. Dengan pencapaian tersebut, TOTL menjadi emiten dengan kinerja kontrak baru paling stabil pada tahun ini.

Kinerja kuat TOTL terlihat konsisten sejak kuartal pertama. Perusahaan rutin memenangkan tender proyek gedung bertingkat, fasilitas komersial, pusat perkantoran, serta proyek swasta yang tidak terlalu bergantung pada APBN. Karena orientasi pasar TOTL banyak mengarah ke sektor properti komersial, tekanan fiskal pemerintah tidak memengaruhi pergerakan kontrak perusahaan secara signifikan.

Selain itu, TOTL juga fokus menjaga arus kas, efisiensi material, dan eksekusi proyek yang tepat waktu. Kombinasi tersebut membuat calon pemberi kerja memandang TOTL sebagai kontraktor yang sangat kredibel. Akibatnya, tender yang masuk pun meningkat sepanjang 2025.


Kinerja Emiten Lain: Beragam dan Tidak Merata

Bila TOTL mencetak hasil di atas ekspektasi, sejumlah emiten lain justru menghadapi tantangan yang cukup berat.

1. Emiten yang bergantung pada proyek APBN

Beberapa BUMN karya harus mengatur arus kas secara lebih ketat karena pendanaan proyek infrastruktur melambat. Pemerintah tetap memprioritaskan IKN, sehingga proyek non-IKN mengalami penjadwalan ulang. Akibatnya, beberapa emiten kesulitan mengejar target kontrak baru.

Emiten yang berada pada kondisi tersebut biasanya mencatat NKB lebih rendah dari proyeksi awal tahun.

2. Emiten yang mengandalkan sektor swasta

Kondisinya lebih bervariasi. Ada yang mencatat kontrak stabil karena mereka mengerjakan proyek mixed-use, residensial mewah, dan perkantoran premium. Namun, ada pula perusahaan yang tidak berhasil mencetak kontrak besar akibat kompetisi tender yang semakin ketat.

3. Tantangan pembiayaan proyek

Pasar modal mencatat bahwa bank mulai memperketat kredit konstruksi. Selain itu, cost of fund yang naik sepanjang semester dua 2025 membuat sejumlah proyek swasta mundur dari jadwal awal. Kondisi ini berdampak langsung pada emiten yang mengandalkan pembangunan jangka panjang.


Dampak Fokus Pemerintah pada IKN

Pembangunan IKN masih menjadi prioritas utama APBN 2025–2026. Karena itu, sebagian besar anggaran konstruksi pemerintah mengalir ke proyek-proyek Nusantara, seperti:

  • kawasan perkantoran pemerintahan,
  • permukiman ASN tahap kedua,
  • infrastruktur air minum,
  • transportasi dan akses jalan.

Kondisi ini memberi peluang besar bagi emiten yang sudah memiliki portofolio proyek pemerintah. Namun, bagi emiten yang portofolionya didominasi proyek swasta, mereka harus berjuang keras memenangkan tender komersial untuk menjaga backlog pekerjaan.

TOTL berada pada kategori kedua, sehingga perusahaan tetap aman meski fokus pemerintah tertuju pada IKN.


Prospek Kinerja Emiten Konstruksi pada 2026

Para analis menyebut bahwa sektor konstruksi tetap menyimpan peluang cerah selama perusahaan mampu menjaga:

  1. Arus kas operasional
  2. Efisiensi material dan tenaga kerja
  3. Profitability tiap tender yang masuk
  4. Diversifikasi proyek

TOTL dipandang memiliki posisi yang kuat karena perusahaan mampu:

  • menjaga beban operasional,
  • menghindari risiko pembayaran tertunda,
  • dan fokus pada proyek dengan margin sehat.

Sementara itu, emiten yang bergantung pada APBN perlu menunggu kejelasan pagu anggaran 2026 sebelum menargetkan NKB secara agresif.


Sentimen Pasar Modal terhadap Emiten Konstruksi

Pelaku pasar menilai bahwa emiten konstruksi dengan arus kas stabil akan lebih menarik di tahun depan. Investor mulai memilih perusahaan yang memiliki:

  • rasio utang rendah,
  • proyek jangka pendek dengan pembayaran cepat,
  • dan kontrak dari sektor non-pemerintah.

Saham TOTL menjadi salah satu yang memperoleh sentimen positif karena perusahaan menunjukkan kinerja kontrak baru yang konsisten dan menembus target.

Di sisi lain, investor masih berhati-hati terhadap emiten BUMN konstruksi karena rasio utang yang cukup tinggi dan proyek yang bergantung pada APBN. Namun, jika percepatan IKN berlangsung mulus, beberapa BUMN karya berpotensi mencatat sentimen positif pada semester dua 2026.


Kesimpulan

Capaian nilai kontrak baru emiten konstruksi pada 2025 menunjukkan dinamika yang sangat beragam. TOTL bergerak paling solid karena berhasil menembus target NKB sebelum tahun berakhir. Sementara itu, emiten lain menghadapi tantangan pendanaan, kompetisi tender, hingga ketergantungan pada proyek pemerintah.

Dengan kondisi pendanaan yang ketat, fokus pemerintah pada IKN, serta pergeseran strategi investor, perusahaan konstruksi harus meningkatkan efisiensi, menjaga arus kas, dan memilih tender yang benar-benar menguntungkan.

TOTL menunjukkan bahwa strategi yang tepat dapat mendorong pertumbuhan, meski industri sedang menghadapi tekanan. Karena itu, emiten lain dapat menjadikan kinerja TOTL sebagai contoh bagaimana perusahaan dapat bertahan dan berkembang pada situasi pasar yang menantang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *