Kredit Perbankan Melambat pada Oktober 2025
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia melambat menjadi 7,36% pada Oktober 2025. BI mendorong akselerasi pembiayaan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Simak analisis lengkapnya di sini.

Pertumbuhan Kredit Perbankan Melambat pada Oktober 2025

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 hanya mencapai 7,36 persen (yoy). Angka tersebut turun dari 7,70 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Meskipun penurunannya tidak besar, tren ini menunjukkan bahwa perbankan masih menghadapi tantangan dalam mendorong penyaluran kredit di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

BI menjelaskan bahwa pelaku usaha lebih berhati-hati dalam menambah pembiayaan. Banyak perusahaan memilih menunda ekspansi karena mereka menunggu kepastian kondisi ekonomi dunia. Selain itu, beberapa korporasi menggunakan dana internal untuk menjaga arus kas sehingga kebutuhan kredit dari bank ikut menurun.

Pelaku Usaha Mengambil Sikap Wait and See

Para ekonom menilai langkah wait and see pelaku usaha cukup wajar. Situasi global yang dipengaruhi kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan dinamika geopolitik membuat pelaku usaha lebih memilih bergerak perlahan. Mereka ingin memastikan kondisi pasar berada di zona aman sebelum menambah investasi.

Perusahaan besar yang memiliki cadangan kas kuat juga memilih memaksimalkan modal sendiri. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada pinjaman bank yang masih berada pada level bunga cukup tinggi.

BI Anggap Suku Bunga Kredit Masih Menjadi Tantangan

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa ekonomi nasional membutuhkan pertumbuhan kredit yang lebih kuat. Dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19 November 2025, ia menyampaikan bahwa suku bunga kredit yang masih tinggi membuat banyak debitur menunda ekspansi.

Kenaikan suku bunga acuan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ikut mempengaruhi biaya pinjaman. Kondisi ini membuat sebagian pelaku usaha kembali meninjau rencana bisnis mereka. Meskipun begitu, BI tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan kebutuhan pertumbuhan sektor riil.

Undisbursed Loan Masih Tertahan di Level Tinggi

BI melaporkan undisbursed loan atau fasilitas kredit yang belum dicairkan mencapai Rp2.450,7 triliun, setara 22,97 persen dari total plafon. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan kredit sebenarnya masih ada, tetapi perusahaan belum menarik dana tersebut.

Pelaku usaha menunggu momentum yang tepat untuk mengeksekusi rencana mereka. Beberapa perusahaan juga menyesuaikan dokumen, kebutuhan agunan, dan kesiapan proyek sebelum menarik kredit.

BI Mendorong Akselerasi Kredit Lewat Beragam Kebijakan

BI memperluas ruang gerak perbankan dengan memberikan relaksasi makroprudensial agar bank lebih aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. Selain itu, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mempercepat realisasi proyek prioritas nasional.

BI juga terus mendorong digitalisasi perbankan. Langkah ini dapat meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses penyaluran kredit, terutama bagi pelaku UMKM yang membutuhkan akses pembiayaan lebih cepat dan mudah.

Likuiditas Perbankan Tetap Terjaga

Meskipun pertumbuhan kredit melambat, perbankan masih memiliki likuiditas yang kuat. Rasio permodalan berada di level aman sehingga bank memiliki kapasitas besar untuk menyalurkan kredit tambahan. Kondisi ini memberikan ruang bagi perbankan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas.

Dampak Perlambatan Kredit bagi Ekonomi

Lambatnya pertumbuhan kredit dapat memengaruhi aktivitas usaha jika berlangsung cukup lama. Kredit memegang peranan penting dalam ekspansi bisnis, penambahan kapasitas produksi, dan penciptaan lapangan kerja. Jika perusahaan menunda pengambilan kredit, laju pertumbuhan ekonomi dapat ikut melambat.

Namun, BI melihat perlambatan ini hanya bersifat sementara. Banyak sektor yang biasanya meningkatkan kebutuhan modal menjelang akhir tahun, sehingga potensi kenaikan kredit masih terbuka lebar.

Optimisme terhadap Pemulihan Kredit Akhir Tahun

Menjelang tutup tahun, sektor perdagangan, industri pengolahan, dan ritel biasanya meningkatkan aktivitas. Kenaikan permintaan konsumen sering mendorong pelaku usaha menambah stok, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperkuat modal kerja.

Perusahaan yang sebelumnya menunda pencairan kredit kemungkinan akan mulai menarik fasilitas mereka untuk mengejar target akhir tahun. Jika kondisi ini terjadi, pertumbuhan kredit berpeluang kembali menguat pada kuartal IV-2025.

Kesimpulan

Perlambatan pertumbuhan kredit pada Oktober 2025 mencerminkan sikap kehati-hatian pelaku usaha. Namun, BI optimis bahwa penyaluran kredit akan membaik seiring meningkatnya aktivitas sektor riil dan membaiknya iklim investasi. Dengan strategi akselerasi kredit dan koordinasi kebijakan yang lebih kuat, perbankan memiliki peluang besar untuk membantu mendorong ekonomi nasional bergerak lebih cepat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *