π Prospek Saham Merdeka Group Masih Menjanjikan
Prospek saham-saham di bawah Merdeka Group masih menunjukkan arah yang positif. Selain itu, dukungan fundamental dan perbaikan harga komoditas ikut memperkuat sentimen pasar. Karena itu, sejumlah analis menilai peluang kenaikan harga saham masih terbuka lebar hingga beberapa tahun ke depan.
Dalam riset yang terbit pada 19 Januari 2026, Indo Premier Sekuritas menempatkan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebagai pilihan utama. Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menyusul sebagai alternatif investasi yang tetap menarik.
π MBMA Jadi Andalan Indo Premier
Indo Premier menilai MBMA memiliki kombinasi risiko dan potensi imbal hasil yang paling seimbang. Selain fokus pada komoditas strategis, MBMA juga memiliki fasilitas hilirisasi yang mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Lebih lanjut, risiko terkait kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dinilai masih relatif dapat dikelola. Hal ini karena pemerintah terus mendorong keseimbangan antara pasokan bijih dan kebutuhan smelter nasional.
Dengan kata lain, perusahaan tambang yang telah memiliki fasilitas pengolahan memperoleh peluang lebih besar untuk mengantongi persetujuan RKAB.
π Hilirisasi Jadi Kunci Persetujuan RKAB
Berdasarkan pengecekan Indo Premier, perusahaan tambang dengan fasilitas hilirisasi berada pada posisi yang lebih kuat. Selain itu, visi Kementerian ESDM untuk menjaga rantai pasok mineral turut memperkuat peluang tersebut.
Meskipun demikian, persetujuan RKAB yang bersifat parsial tetap berpotensi menimbulkan tambahan biaya. Oleh karena itu, investor perlu mencermati dinamika biaya produksi secara cermat.
Namun, tekanan tersebut belum tentu berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan MBMA.
π° Kenaikan Biaya Masih Bisa Diimbangi
Jika RKAB disetujui secara terbatas, biaya tunai nickel pig iron (NPI) berpotensi meningkat sekitar USD180 hingga USD850 per ton. Kendati demikian, kenaikan biaya tersebut masih dapat diimbangi oleh lonjakan harga jual.
Seiring membaiknya permintaan global, harga NPI telah naik sekitar USD1.300 per ton dari level terendahnya. Saat ini, harga NPI bergerak di kisaran USD12.800 per ton dan diperkirakan bertahan hingga 2026.
Dengan demikian, margin keuntungan MBMA masih berpeluang terjaga.
π Potensi Tambahan Laba dari Bijih Limonit
Selain faktor harga, MBMA juga berpeluang menikmati tambahan laba dari kenaikan premi bijih limonit. Menurut perhitungan Indo Premier, potensi tambahan laba tersebut berkisar antara USD8 juta hingga USD39 juta.
Secara persentase, kontribusi tersebut setara dengan 4 hingga 21 persen dari estimasi laba MBMA pada 2026. Oleh sebab itu, prospek kinerja keuangan perusahaan tetap terlihat solid meski menghadapi tantangan regulasi.
π‘ MDKA dan EMAS Tetap Menarik
Di sisi lain, MDKA dan EMAS juga menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik. MDKA mendapat dukungan dari diversifikasi portofolio tembaga dan emas. Sementara itu, EMAS diuntungkan oleh tren harga emas global yang masih berada di level tinggi.
Selain faktor komoditas, strategi ekspansi dan efisiensi operasional turut menjadi katalis positif bagi kedua emiten tersebut.
Karena itu, Indo Premier tetap memasukkan MDKA dan EMAS dalam daftar saham yang layak dipantau oleh investor.
π Sentimen Global Turut Mendukung
Dari sisi eksternal, permintaan logam untuk kebutuhan energi terbarukan dan kendaraan listrik terus meningkat. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi sektor nikel dan tembaga.
Di samping itu, stabilisasi ekonomi global dan kebijakan transisi energi di berbagai negara turut memperkuat prospek jangka menengah sektor tambang.
Dengan kata lain, Merdeka Group berada pada momentum yang relatif menguntungkan.
π§ Strategi Investor ke Depan
Meski prospek terlihat cerah, investor tetap perlu memperhatikan volatilitas harga komoditas dan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, strategi akumulasi bertahap dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Selain itu, investor disarankan untuk memantau perkembangan RKAB, harga NPI, serta realisasi kinerja keuangan setiap kuartal.
Dengan pendekatan yang disiplin, potensi imbal hasil dari saham-saham Merdeka Group masih terbuka lebar.
β Kesimpulan
Secara keseluruhan, prospek saham Merdeka Group masih menjanjikan hingga 2026. MBMA menjadi pilihan utama berkat dukungan hilirisasi, kenaikan harga NPI, serta peluang tambahan laba dari bijih limonit.
Sementara itu, MDKA dan EMAS tetap menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik di tengah tren positif harga komoditas global. Oleh karena itu, saham-saham Merdeka Group layak masuk radar investor yang mencari peluang di sektor tambang.
