
BPS Catat Kenaikan Belanja Wisatawan Asing, Sinyal Positif bagi Pariwisata
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara (wisman) per kunjungan ke Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai USD1.297,31 atau sekitar Rp21,64 juta (kurs Rp16.679 per USD). Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya, sehingga menandakan pemulihan kuat di sektor pariwisata nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa peningkatan tersebut menunjukkan geliat ekonomi pariwisata yang semakin baik setelah masa ketidakpastian global.
Selain itu, tingginya pengeluaran wisatawan juga menjadi bukti bahwa minat berwisata ke Indonesia tetap tinggi di tengah persaingan global.
“Pada kuartal III-2025, rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan mencapai USD1.297,31 atau mengalami peningkatan dibandingkan rata-rata pada kuartal II-2025,” ujar Pudji dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Belanja Wisman Naik, Ekonomi Pariwisata Kembali Menggeliat
Kenaikan belanja wisatawan asing menunjukkan bahwa mereka semakin banyak mengalokasikan dana selama berlibur di Indonesia. Kondisi ini sekaligus memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Selain itu, aktivitas wisata seperti menginap, menikmati kuliner lokal, menggunakan transportasi, serta berbelanja produk daerah ikut mempercepat perputaran uang di berbagai wilayah.
Data BPS juga memperlihatkan bahwa Australia, Singapura, Malaysia, dan China menjadi penyumbang terbesar kedatangan turis ke Indonesia.
Perbandingan Antar Kuartal Tunjukkan Tren Positif
Jika dibandingkan dengan kuartal II-2025, rata-rata pengeluaran wisatawan mengalami peningkatan. Sementara itu, bila dibandingkan dengan kuartal III-2024, terjadi sedikit penurunan.
Beberapa faktor memengaruhi kondisi ini. Pertama, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat mengubah nilai pengeluaran wisatawan. Kedua, pola perjalanan yang kini lebih hemat turut memengaruhi total belanja.
Namun demikian, tren kenaikan antar-kuartal tetap menegaskan bahwa pariwisata Indonesia sedang berada di jalur pemulihan.
Wisatawan Asing Menghabiskan Waktu Rata-Rata 10,7 Malam
Selama kuartal III-2025, wisatawan mancanegara rata-rata tinggal selama 10,7 malam atau hampir 11 malam di Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih dianggap sebagai destinasi yang menarik dan nyaman.
Selanjutnya, semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar pula peluang bagi mereka untuk membelanjakan uang di sektor-sektor seperti:
- Akomodasi (hotel, vila, guesthouse)
- Kuliner dan restoran lokal
- Transportasi dan penyewaan kendaraan
- Aktivitas wisata seperti diving, hiking, serta pertunjukan budaya
- Belanja produk UMKM dan oleh-oleh
Dengan demikian, lama tinggal yang cukup panjang memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal.
Selain itu, promosi pariwisata yang semakin gencar juga berhasil mendorong wisatawan untuk memperpanjang masa libur mereka.
Destinasi Favorit dan Sektor Pengeluaran Terbesar
Beberapa daerah tercatat oleh BPS sebagai magnet utama bagi wisatawan asing. Bali tetap menjadi primadona, sementara Jakarta, Yogyakarta, Lombok, dan Labuan Bajo terus mengalami peningkatan kunjungan.
Selain itu, BPS juga merinci sektor-sektor yang paling banyak menyerap pengeluaran wisatawan, yaitu:
- Akomodasi – sekitar 35–40% dari total pengeluaran.
- Makanan dan minuman – mencapai 20–25%.
- Transportasi lokal – termasuk sewa kendaraan dan tiket domestik.
- Belanja dan oleh-oleh – sekitar 15%.
- Rekreasi dan aktivitas wisata – seperti tur budaya dan olahraga air.
Oleh karena itu, peningkatan belanja di sektor-sektor ini memberikan efek berganda bagi ekonomi daerah.
UMKM di sekitar destinasi wisata pun semakin terdorong untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan.
Peluang dan Tantangan Sektor Pariwisata
Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Meskipun begitu, sejumlah tantangan masih perlu diatasi, antara lain:
- Peningkatan infrastruktur di luar destinasi utama.
- Penjaminan keamanan dan kenyamanan wisatawan.
- Peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang hospitality.
- Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong pengembangan lima destinasi super prioritas — Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.
Dengan penguatan fasilitas dan promosi yang berkelanjutan, sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah Strategis untuk Meningkatkan Daya Saing
Untuk menjaga momentum positif, pemerintah dan pelaku industri pariwisata perlu melanjutkan langkah-langkah strategis seperti:
- Meningkatkan promosi digital melalui berbagai platform global.
- Mengintegrasikan promosi antar-daerah agar wisatawan bisa menjelajahi lebih banyak destinasi.
- Mengembangkan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang ramah lingkungan.
- Meningkatkan kualitas layanan melalui pelatihan tenaga kerja di bidang pariwisata.
Kemudian, dukungan terhadap UMKM lokal juga perlu diperkuat agar manfaat ekonomi dari sektor ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara pada kuartal III-2025 mencapai USD1.297,31 atau sekitar Rp21,64 juta per kunjungan.
Dengan lama tinggal mencapai 10,7 malam, wisatawan asing berkontribusi besar terhadap perputaran ekonomi lokal.
Oleh karena itu, peningkatan fasilitas, dukungan kebijakan, dan promosi yang konsisten menjadi kunci untuk menjaga tren positif ini.
Pada akhirnya, pariwisata Indonesia berpeluang tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.