Tempo — Temui Presiden Korsel, Prabowo: Anak Muda Indonesia Tergila-gila K-Pop

03 November 2025

Dalam rangka pertemuan APEC 2025 Leaders’ Meeting yang berlangsung di kota Gyeongju, Korea Selatan, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung. Pertemuan ini menandai babak baru dalam hubungan Indonesia–Korea yang semakin dinamis, tidak hanya di bidang ekonomi dan pertahanan, tetapi juga budaya. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo secara khusus menyoroti fenomena budaya pop Korea atau K-Pop yang kini tengah menjadi tren di kalangan generasi muda Indonesia.

“Anak muda Indonesia tergila-gila K-Pop,” ujar Prabowo saat pertemuan dengan Presiden Lee. Kata-kata ini bukan hanya sekadar menggambarkan minat anak muda terhadap musik Korea, melainkan juga mencerminkan pengaruh besar budaya Korea di masyarakat Indonesia. Musik, tarian, fashion, hingga gaya hidup yang muncul dari industri hiburan Korea telah menjadi bagian dari keseharian generasi muda Indonesia. Pernyataan Prabowo juga menekankan bahwa soft power budaya kini menjadi salah satu jembatan penting dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara.

K-Pop dan Diplomasi Budaya

Korea Selatan telah lama memanfaatkan budaya pop sebagai alat soft power untuk membangun citra positif di mata dunia. Gelombang Hallyu atau Korean Wave telah merambah berbagai negara, termasuk Indonesia. Bukan hanya musik, drama, film, dan fashion Korea juga menjadi magnet yang menarik perhatian anak muda. Prabowo menyoroti bahwa fenomena ini membuka ruang bagi diplomasi budaya yang lebih luas, di mana hubungan antarnegara tidak hanya dibangun di meja perundingan formal, tetapi juga melalui interaksi masyarakat dan generasi muda.

Budaya pop Korea memberikan inspirasi dan aspirasi tersendiri bagi anak muda Indonesia. Banyak remaja dan dewasa muda mengikuti tarian K-Pop, menghadiri konser, membeli merchandise, dan aktif di komunitas penggemar (fandom) yang tersebar di seluruh Indonesia. Fenomena ini menandai bahwa generasi muda Indonesia kini terhubung dengan budaya Korea dalam cara yang sangat personal dan emosional, sehingga memengaruhi gaya hidup, bahasa, dan bahkan pola berpakaian mereka.

Kolaborasi Ekonomi dan Pertahanan

Selain membahas budaya, pertemuan bilateral ini juga menyoroti kerjasama ekonomi dan pertahanan. Prabowo dan Lee menegaskan kelanjutan kerjasama dalam proyek jet tempur KF-21 Boramae, di mana Indonesia terlibat sebagai salah satu negara mitra. Meskipun ada penyesuaian terkait biaya dan investasi, dialog teknis antara kedua negara terus berjalan untuk memastikan proyek ini dapat berjalan sesuai rencana.

Dalam hal ekonomi, Korea Selatan tetap menjadi salah satu investor utama di Indonesia. Investasi Korea telah mencakup sektor manufaktur, teknologi, dan energi, serta semakin berkembang ke industri kreatif. Prabowo menekankan bahwa hubungan ekonomi yang kuat perlu diimbangi dengan komunikasi dan pertukaran budaya yang mendalam, sehingga kerjasama antara kedua negara tidak hanya bersifat transaksional tetapi juga strategis dan berkelanjutan.

Mengapa Generasi Muda Tertarik K-Pop?

Fenomena K-Pop di Indonesia bukanlah hal baru. Popularitas boy band dan girl group Korea telah meningkat drastis selama lebih dari satu dekade. Ada beberapa faktor utama yang membuat anak muda Indonesia tergila-gila dengan K-Pop:

  1. Produksi Berkualitas Tinggi: Musik, video klip, dan tarian yang diproduksi dengan standar internasional membuat K-Pop menarik secara visual dan audio. Koreografi yang sinkron dan penampilan yang memukau menghadirkan hiburan yang menghibur sekaligus inspiratif.
  2. Akses Digital: Platform streaming dan media sosial mempermudah penggemar Indonesia untuk mengikuti konten Korea, termasuk konser virtual, variety show, dan interaksi dengan idola mereka.
  3. Komunitas Fan Culture: Fandom K-Pop sangat aktif. Penggemar membentuk komunitas online maupun offline, menghadiri fan meeting, konser, hingga kegiatan sosial yang diinisiasi oleh komunitas penggemar.
  4. Pengaruh Fashion dan Lifestyle: Gaya berpakaian, dandanan, hingga gerak tarian menjadi trend di kalangan remaja dan dewasa muda Indonesia. Banyak yang mengadopsi tren ini sebagai bagian dari ekspresi diri.
  5. Keterikatan Emosional: Banyak penggemar merasa memiliki kedekatan emosional dengan idola K-Pop, sehingga pengaruh budaya Korea tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga membentuk aspirasi, cita rasa, dan cara berpikir generasi muda.

Peluang dan Tantangan

Fenomena ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan gelombang K-Pop sebagai sarana pengembangan industri kreatif dan diplomasi budaya. Pemerintah dan pelaku industri dapat mengadakan kolaborasi dengan artis Korea, produksi bersama, festival budaya, hingga pelatihan kreatif. Hal ini bisa meningkatkan kualitas industri kreatif lokal sekaligus membuka jalan bagi pertukaran budaya yang lebih luas.

Namun, ada tantangan yang perlu diperhatikan. Dominasi budaya asing berpotensi menggeser apresiasi terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, pendidik, dan pelaku industri kreatif untuk menyeimbangkan pengaruh budaya luar dengan penguatan identitas budaya Indonesia. Selain itu, kerjasama yang sehat harus memastikan hak cipta, lisensi, dan model bisnis kreatif dapat berjalan berkelanjutan tanpa menimbulkan eksploitasi atau ketergantungan pasif.

Perspektif Diplomasi Soft Power

Pernyataan Prabowo mengenai anak muda yang tergila-gila K-Pop menegaskan bahwa soft power budaya menjadi instrumen strategis dalam hubungan internasional. Diplomasi tidak hanya terjadi di tingkat pemerintah, tetapi juga melalui interaksi masyarakat dan generasi muda yang saling terhubung melalui musik, tarian, dan tren global.

Dalam konteks Indonesia-Korea, ini menjadi peluang untuk memperluas kolaborasi di berbagai sektor:

  • Event budaya bersama, festival musik, dan pertunjukan seni yang melibatkan kedua negara.
  • Co-production film, musik, dan media digital untuk menciptakan konten yang menarik pasar internasional.
  • Pendidikan dan pertukaran kreatif yang memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar langsung dari pengalaman lintas negara.
  • Peningkatan kualitas industri hiburan lokal dengan inspirasi dari standar produksi Korea, namun tetap berakar pada nilai budaya Indonesia.

Kesimpulan

Pertemuan Prabowo Subianto dan Lee Jae-myung menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Korea kini semakin multi-dimensional. Selain fokus pada ekonomi, teknologi, dan pertahanan, aspek budaya pop menjadi komponen penting dalam diplomasi dan pengembangan kerjasama. Fenomena K-Pop bukan hanya sekadar tren, tetapi juga jembatan emosional dan sosial yang menghubungkan generasi muda kedua negara.

Dengan memahami dan memanfaatkan fenomena ini secara strategis, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga mampu menjadi kreator yang berkolaborasi dalam ruang global. Diplomasi budaya, yang ditandai dengan ketertarikan anak muda Indonesia terhadap K-Pop, menjadi salah satu pilar baru dalam memperkuat hubungan bilateral dan menciptakan peluang ekonomi, kreatif, dan sosial yang berkelanjutan.

Pertemuan di Gyeongju ini mengingatkan bahwa diplomasi abad 21 bukan hanya soal perjanjian atau negosiasi politik, tetapi juga tentang memahami pengaruh budaya, teknologi, dan aspirasi generasi muda. K-Pop, dengan pengaruhnya yang luas, telah menjadi contoh nyata bagaimana budaya pop dapat memperkuat hubungan antarnegara, membentuk ikatan sosial, dan membuka peluang kolaborasi di berbagai bidang. Anak muda Indonesia, yang “tergila-gila” dengan K-Pop, kini menjadi bagian dari cerita diplomasi modern yang menghubungkan Asia dan dunia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *