Volume Angkutan Tongkang ALII Turun hingga 50 Persen, Ekspor Batu Bara Tertekan Global

PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) mencatat penurunan signifikan pada volume angkutan tongkang 300 feet sepanjang 2025. Hingga September 2025, perusahaan hanya mengangkut sekitar 942.000 metrik ton (MT), atau turun lebih dari setengah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada tahun lalu, ALII membukukan volume angkutan tongkang 300 feet sebesar 1.984.000 MT. Penurunan ini mencerminkan melemahnya aktivitas logistik batu bara di tengah tekanan pasar global.

Dinamika Global Tekan Ekspor Batu Bara

Direktur Ancara Logistics Indonesia, Rahul Nalin Rathod, menjelaskan bahwa dinamika global menjadi faktor utama di balik penurunan volume angkutan. Ketidakpastian ekonomi dunia secara langsung menekan aktivitas ekspor batu bara Indonesia.

Selain itu, kondisi geopolitik global terus memengaruhi arus perdagangan komoditas energi. Akibatnya, perusahaan logistik turut merasakan dampak perlambatan tersebut.

Persaingan AS–China Pengaruhi Arus Ekspor

Persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan China ikut memengaruhi rantai pasok batu bara global. Ketegangan dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut menyebabkan perubahan pola perdagangan energi.

Sebagai dampaknya, arus ekspor batu bara Indonesia ke China dan India mengalami penurunan. Padahal, kedua negara tersebut selama ini menjadi konsumen utama batu bara Indonesia.

Permintaan China dan India Melemah

Penurunan permintaan dari China dan India memberikan tekanan langsung terhadap utilisasi armada tongkang. ALII selama ini banyak mengoperasikan tongkang 300 feet untuk mendukung ekspor ke kedua negara tersebut.

Namun, melemahnya permintaan membuat kebutuhan angkutan ikut menyusut. Kondisi ini akhirnya menurunkan tingkat utilisasi tongkang secara signifikan.

Dampak Langsung ke Operasional Logistik

Turunnya volume angkutan memengaruhi kinerja operasional perusahaan logistik. ALII harus menyesuaikan strategi operasional agar tetap efisien di tengah volume yang lebih rendah.

Selain itu, perusahaan juga melakukan evaluasi jadwal operasional dan penggunaan armada. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan.

Industri Logistik Hadapi Tantangan Serupa

Tidak hanya ALII, pelaku industri logistik batu bara lainnya juga menghadapi tantangan serupa. Tekanan global membuat aktivitas ekspor melambat secara luas.

Oleh karena itu, perusahaan logistik perlu meningkatkan fleksibilitas bisnis. Diversifikasi layanan menjadi salah satu strategi yang mulai dipertimbangkan banyak pelaku usaha.

Strategi Adaptasi di Tengah Tekanan

Di tengah tekanan pasar, ALII berupaya menjaga kinerja dengan mengoptimalkan efisiensi operasional. Perusahaan juga memantau peluang kerja sama baru di sektor logistik domestik.

Selain itu, ALII terus mencermati perkembangan pasar global. Dengan strategi adaptif, perusahaan berharap dapat memanfaatkan momentum ketika permintaan kembali pulih.

Prospek ke Depan

Meskipun menghadapi tekanan pada 2025, prospek industri batu bara tetap bergantung pada dinamika global. Pemulihan ekonomi dunia berpotensi mendorong kembali permintaan energi.

Jika permintaan China dan India kembali meningkat, volume angkutan tongkang diperkirakan ikut pulih. Kondisi tersebut akan membuka peluang perbaikan kinerja bagi perusahaan logistik seperti ALII.

Kesimpulan

Penurunan volume angkutan tongkang ALII hingga 50 persen mencerminkan dampak nyata dinamika global terhadap industri logistik batu bara Indonesia. Tekanan ekspor, persaingan global, serta melemahnya permintaan utama menjadi faktor utama di balik kondisi ini.

Meski demikian, melalui strategi adaptasi dan efisiensi, ALII berupaya menjaga keberlanjutan bisnis sambil menunggu pemulihan pasar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *