Rabu, 10 September 2025 | 08.57 WIB

Indonesia sedang mengejar target Net Zero Emission 2060. Untuk mencapainya, transisi energi tidak bisa ditunda. Energi fosil harus diganti dengan energi bersih.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) menyebut green hydrogen sebagai game changer. Energi ini dipandang sebagai kunci percepatan dekarbonisasi sekaligus peluang ekonomi baru.
Apa Itu Green Hydrogen?
Green hydrogen adalah hidrogen yang diproduksi dengan elektrolisis air. Prosesnya memakai listrik dari energi terbarukan.
Sumber energinya beragam. Bisa dari surya, angin, air, hingga panas bumi. Dengan cara ini, produksi hidrogen tidak menghasilkan emisi karbon.
Karena ramah lingkungan, green hydrogen dianggap energi masa depan. Energi ini bisa digunakan di sektor transportasi, listrik, maupun industri berat.
Mengapa Green Hydrogen Penting?
Wamen ESDM menilai green hydrogen akan mengubah arah transisi energi. Ada beberapa alasan kuat.
Pertama, energi ini fleksibel. Green hydrogen dapat dipakai di banyak sektor. Kedua, energi ini mendukung dekarbonisasi. Industri baja, semen, dan petrokimia dapat lebih bersih.
Selain itu, green hydrogen meningkatkan kemandirian energi. Indonesia bisa mengurangi impor energi fosil. Terakhir, peluang ekspor terbuka luas karena permintaan global sangat besar.
Potensi Indonesia
Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk produksi green hydrogen.
Energi surya berpotensi lebih dari 200 GW. Panas bumi mencapai 24 GW, terbesar kedua di dunia. Tenaga air tersebar di banyak wilayah. Energi angin cukup besar di bagian timur Indonesia.
Dengan modal ini, Indonesia bisa membangun pusat produksi green hydrogen. Jika dijalankan serius, Indonesia berpeluang jadi hub energi hijau Asia Tenggara.
Tantangan yang Harus Diatasi
Meski potensinya besar, tantangan tetap ada.
Pertama, biaya produksi masih tinggi. Green hydrogen lebih mahal dibanding hidrogen fosil. Kedua, infrastruktur penyimpanan dan distribusi belum siap.
Selain itu, teknologi dan SDM masih terbatas. Regulasi juga belum lengkap. Investor menunggu kepastian insentif dan aturan khusus. Karena itu, langkah konkret sangat dibutuhkan.
Strategi Pemerintah
Untuk menjawab tantangan, pemerintah menyiapkan beberapa strategi.
Pertama, menyusun roadmap hidrogen nasional hingga 2060. Kedua, memperkuat kerja sama internasional. Indonesia sudah menggandeng Jepang, Korea, dan Eropa.
Selain itu, pemerintah mulai membangun proyek percontohan di beberapa lokasi. Pemerintah juga menyiapkan insentif fiskal berupa tax holiday, subsidi, dan feed-in tariff.
Dengan strategi ini, pertumbuhan industri green hydrogen diharapkan lebih cepat.
Dampak Ekonomi
Green hydrogen tidak hanya penting untuk lingkungan. Energi ini juga berdampak positif bagi ekonomi nasional.
Investasi asing bisa masuk dalam jumlah besar. Proyek energi terbarukan juga membuka ribuan lapangan kerja baru.
Selain itu, green hydrogen berpotensi jadi komoditas ekspor unggulan. Jika berhasil, Indonesia bisa bersaing dengan LNG dan batu bara.
Dampak Lingkungan
Manfaat lingkungan dari green hydrogen sangat besar.
Produksi dan pemakaiannya mengurangi emisi karbon di sektor industri. Selain itu, kualitas udara akan membaik. Masyarakat pun mendapat manfaat kesehatan.
Karena itu, green hydrogen mendukung target iklim Indonesia. Upaya menuju NZE 2060 akan lebih cepat tercapai.
Posisi Indonesia di Dunia
Banyak negara sudah bergerak lebih dulu. Jepang, Jerman, dan Australia berinvestasi besar dalam green hydrogen.
Indonesia juga bisa ikut bersaing. Dengan potensi energi terbarukan, Indonesia dapat masuk jajaran pemain utama.
Energi ini bisa jadi aset strategis baru. Jika abad ke-20 dikuasai minyak dan gas, maka abad ke-21 akan dikuasai energi hijau.
Kesimpulan
Green hydrogen adalah game changer transisi energi. Energi ini ramah lingkungan, fleksibel, dan mendukung kemandirian energi.
Namun, biaya, teknologi, infrastruktur, dan regulasi masih jadi tantangan. Pemerintah menyiapkan roadmap, insentif, serta proyek percontohan untuk menjawab masalah itu.
Dengan strategi tepat, Indonesia bisa jadi produsen dan eksportir green hydrogen. Energi ini akan membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat komitmen iklim menuju Net Zero Emission 2060.