Kamboja dan Thailand: Militer AS Kembali Latihan Bersama Setelah 8 Tahun, Sinyal Perubahan di Asia Tenggara

Kerja sama militer antara Amerika Serikat (AS) dengan negara-negara Asia Tenggara kembali menunjukkan babak baru. Setelah delapan tahun terhenti, Kamboja secara resmi kembali menggelar latihan militer bersama pasukan AS. Langkah ini menjadi perhatian besar di kawasan, terutama karena selama beberapa tahun terakhir Kamboja dikenal sangat dekat dengan Tiongkok. Kembalinya kerja sama pertahanan dengan Washington dianggap sebagai sinyal penting dalam peta geopolitik baru di Asia Tenggara — khususnya bagi hubungan antara Kamboja, Thailand, dan kekuatan besar dunia.


Latar Belakang Hubungan AS–Kamboja

Hubungan militer AS dan Kamboja sempat memburuk pada tahun 2017 ketika Phnom Penh membatalkan program pelatihan bersama dengan Washington. Saat itu, pemerintah Kamboja di bawah Perdana Menteri Hun Sen menuding AS ikut campur dalam urusan politik domestik. Di saat bersamaan, hubungan Kamboja dengan Tiongkok justru semakin erat. Beijing memberikan bantuan ekonomi dan militer dalam skala besar, termasuk proyek pembangunan pangkalan laut Ream di pesisir selatan Kamboja.

Namun, setelah pergantian kepemimpinan dari Hun Sen ke putranya, Hun Manet, yang juga memiliki latar belakang militer dan pendidikan di Amerika Serikat (lulusan West Point), arah kebijakan luar negeri Kamboja mulai tampak lebih seimbang. Hun Manet berupaya menjaga kedekatan dengan Beijing tanpa menutup peluang kerja sama dengan Washington dan negara-negara Barat lainnya. Dari sinilah titik awal latihan militer bersama kembali terbuka.


Latihan Bersama: Simbol Kepercayaan Baru

Latihan militer yang diberi nama “Angkor Sentinel 2025” menjadi simbol penting pemulihan hubungan Kamboja–AS. Latihan ini berfokus pada peningkatan kemampuan pasukan dalam operasi perdamaian, bantuan kemanusiaan, dan penanggulangan bencana. Walau bukan latihan tempur berskala besar seperti Cobra Gold di Thailand, namun kehadiran personel militer AS di Kamboja setelah delapan tahun absen memiliki makna politik yang dalam.

Para analis menilai latihan ini bukan sekadar latihan teknis, melainkan pesan bahwa Kamboja mulai membuka kembali pintu dialog strategis dengan Washington. Di sisi lain, Kamboja juga ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya bukan “boneka Beijing” seperti yang kerap dituduhkan beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Kamboja menegaskan bahwa kerja sama ini bersifat terbuka dan seimbang. “Kamboja bekerja sama dengan siapa pun demi perdamaian dan stabilitas regional,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja. Pernyataan ini menegaskan upaya Phnom Penh untuk menjaga keseimbangan di tengah rivalitas dua raksasa dunia — AS dan Tiongkok.


Thailand: Mitra Lama AS yang Kini Lebih Hati-Hati

Sementara itu, di sisi barat, Thailand — yang merupakan sekutu lama Amerika Serikat di kawasan — juga terus menjadi bagian penting dalam kerja sama militer regional. Program latihan Cobra Gold, yang digelar setiap tahun di Thailand, tetap menjadi salah satu latihan gabungan terbesar di Asia. Namun, hubungan Bangkok dengan Washington juga sempat menurun sejak kudeta militer 2014. Seiring waktu, hubungan ini mulai membaik kembali.

Dengan Kamboja kini ikut kembali dalam orbit latihan militer AS, kawasan Indochina menjadi lebih strategis bagi Washington. Thailand dan Kamboja memiliki hubungan perbatasan yang sensitif, namun juga saling membutuhkan secara ekonomi dan keamanan. Latihan militer yang melibatkan keduanya dengan kehadiran AS berpotensi memperkuat koordinasi regional, terutama dalam menghadapi ancaman bersama seperti perdagangan manusia, penyelundupan lintas batas, dan bencana alam.


Persaingan AS–Tiongkok di Asia Tenggara

Kehadiran militer AS di Kamboja tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik yang lebih luas: persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Asia Tenggara. Beijing selama ini menganggap Kamboja sebagai salah satu sekutu paling setia di kawasan. Dukungan ekonomi besar dari Tiongkok membuat banyak proyek infrastruktur di Kamboja bergantung pada dana dari Beijing.

Namun, dominasi ekonomi Tiongkok juga menimbulkan kekhawatiran di dalam negeri Kamboja. Beberapa proyek, terutama di wilayah pesisir Sihanoukville, menuai kritik karena dianggap lebih menguntungkan investor asing daripada masyarakat lokal. Di sinilah Hun Manet tampaknya mencoba menyeimbangkan posisi: menjaga hubungan baik dengan Tiongkok sambil membuka kembali jalur komunikasi dengan Barat.

Bagi Amerika Serikat, latihan militer bersama di Kamboja merupakan bagian dari strategi re-engagement atau “keterlibatan kembali” di Asia Tenggara. Washington menyadari bahwa untuk menghadapi pengaruh Tiongkok, mereka tidak bisa hanya mengandalkan Filipina dan Thailand, tetapi juga harus menjalin kerja sama dengan negara-negara lain seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja.


Dampak Strategis untuk Kawasan

Kembalinya latihan militer AS di Kamboja menandai adanya perubahan dinamika keamanan di Asia Tenggara. Kawasan ini kini menjadi ajang tarik-menarik antara dua kekuatan besar dunia. Namun, bagi negara-negara ASEAN, termasuk Thailand dan Kamboja, situasi ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat posisi tawar mereka.

  1. Bagi Kamboja, kerja sama dengan AS memberikan peluang untuk meningkatkan kemampuan militer dan membuka akses ke teknologi serta pelatihan yang lebih modern. Selain itu, kehadiran AS bisa menyeimbangkan pengaruh Tiongkok agar Kamboja tidak terlalu bergantung pada satu mitra saja.
  2. Bagi Thailand, kehadiran Kamboja dalam orbit kerja sama militer AS bisa memperkuat stabilitas regional, terutama di wilayah perbatasan yang kerap menjadi titik rawan.
  3. Bagi kawasan ASEAN, langkah ini memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dua kekuatan besar tanpa harus berpihak secara ekstrem.

Reaksi Tiongkok

Tiongkok tentu tidak tinggal diam. Media pemerintah Tiongkok menyoroti latihan ini dengan nada hati-hati. Beijing menyebut bahwa kerja sama militer apa pun sebaiknya tidak dijadikan alat untuk “mengganggu stabilitas regional”. Namun, di balik pernyataan itu tersirat kekhawatiran bahwa AS mulai berhasil menembus kembali pengaruhnya di kawasan yang selama ini didominasi oleh Beijing.

Meski begitu, hubungan ekonomi Kamboja–Tiongkok tampaknya tetap solid. Kamboja masih menerima investasi besar dari Belt and Road Initiative (BRI), dan Tiongkok masih menjadi mitra dagang terbesar negara itu. Artinya, meskipun ada perubahan arah diplomasi, Phnom Penh tidak akan serta-merta berpihak ke salah satu kubu.


Pandangan Para Analis

Beberapa pengamat politik Asia Tenggara menyebut bahwa langkah Kamboja ini merupakan bentuk “multi-alignment diplomacy” — yaitu strategi menjalin hubungan dengan banyak pihak untuk menghindari ketergantungan pada satu kekuatan.
Menurut Dr. Sophal Ear, analis dari Arizona State University, “Hun Manet memahami bahwa generasi barunya tidak bisa hanya bergantung pada satu mitra. Dunia sekarang membutuhkan fleksibilitas diplomasi.”

Pandangan ini mencerminkan realitas politik baru di Asia Tenggara: negara-negara kecil semakin berani memainkan politik keseimbangan demi keuntungan nasional mereka.


Penutup: Era Baru di Asia Tenggara

Kembalinya latihan militer AS dengan Kamboja dan peran Thailand yang tetap aktif dalam kerja sama pertahanan menandai era baru di Asia Tenggara. Kawasan ini tidak lagi menjadi sekadar arena pengaruh satu negara besar, tetapi menjadi panggung bagi strategi diplomasi cerdas negara-negara kecil yang ingin mempertahankan kedaulatan dan stabilitasnya.

Dalam situasi global yang semakin tidak pasti — perang di Ukraina, ketegangan di Laut Cina Selatan, dan kompetisi teknologi antara AS dan Tiongkok — kerja sama semacam ini menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN masih punya ruang untuk bermanuver.

Kamboja dan Thailand kini berdiri di titik tengah: di antara dua kekuatan besar dunia, keduanya memilih jalan pragmatis — bekerja sama dengan siapa pun demi keamanan, stabilitas, dan masa depan kawasan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *